![]() |
| Gambar ilustrasi. | Foto : Tim Redaksi. |
METRO GAYO | ACEH TENGAH – Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia jurnalistik kian meluas. Sejumlah perusahaan media mulai memanfaatkan teknologi ini untuk memproduksi berita secara cepat, khususnya pada laporan berbasis data.
Namun, di balik kecepatan tersebut, muncul kekhawatiran terkait kualitas dan nilai jurnalistik yang dihasilkan.
Dosen Ilmu Komunikasi, Andi Faisal Bakti, menilai bahwa AI memang mampu membantu proses produksi berita, tetapi belum bisa menggantikan peran jurnalis secara utuh.
“AI hanya mengolah data. Tapi jurnalisme bukan sekadar data, ada verifikasi, ada empati, dan ada tanggung jawab,” ujarnya.
Menurutnya, berita yang dihasilkan AI cenderung datar dan minim konteks, karena tidak melalui proses peliputan langsung di lapangan. Padahal, kedalaman informasi menjadi salah satu kekuatan utama dalam karya jurnalistik.
Hal senada juga disampaikan oleh praktisi media, Najwa Shihab, yang menegaskan pentingnya peran manusia dalam menjaga kualitas berita.
“Jurnalisme itu bukan hanya soal cepat, tapi juga soal akurasi dan keberpihakan pada kebenaran,” katanya.
Selain itu, penggunaan AI juga menimbulkan persoalan baru terkait akuntabilitas. Berbeda dengan jurnalis yang memiliki identitas jelas, sistem berbasis AI belum memiliki tanggung jawab hukum yang tegas jika terjadi kesalahan informasi.
Pengamat media lainnya menyebut, tanpa kontrol yang ketat, penggunaan AI berpotensi mendorong lahirnya konten sensasional yang hanya mengejar jumlah pembaca, bukan kualitas informasi.
Meski demikian, AI tidak sepenuhnya dipandang sebagai ancaman. Teknologi ini tetap dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, terutama untuk pekerjaan rutin seperti pengolahan data atau laporan singkat.
Dengan demikian, kolaborasi antara jurnalis dan teknologi dinilai menjadi solusi terbaik. Jurnalis tetap memegang peran utama dalam menjaga akurasi, kedalaman, dan nilai kemanusiaan dalam setiap pemberitaan.
