![]() |
| Potret warga dan guru serta siswa memegang sepanduk penolakan Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). | Penulis : Wahyu. | Editor : Hidayat sabirun. |
METRO GAYO | MAKASSAR – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, menimbulkan protes dari warga setempat. PLTSa merupakan teknologi yang mengubah sampah menjadi energi listrik melalui pembakaran pada suhu tinggi. Tujuannya adalah mengurangi volume sampah di tempat pemrosesan akhir (TPA) sekaligus menyediakan energi listrik. Namun, proyek ini memunculkan kekhawatiran serius terkait kesehatan dan lingkungan.
Ratusan warga hadir di balai kota untuk menyampaikan penolakan mereka. Mereka menyoroti potensi pencemaran udara, abu beracun, suara bising, dan limbah cair yang dapat berdampak hingga puluhan tahun ke depan. Jamaludin, perwakilan warga Kelurahan Mula Baru, menegaskan bahwa “Kalau PLTSa ini beroperasi, pencemaran udara, abu beracun, suara bising sampai limbah cair akan langsung dirasakan warga. Dan itu bukan sebentar, tapi bisa sampai 30 tahun ke depan.”
Sementara itu, Siti Husnawati Malik atau Ibu Coa’, yang tinggal berdampingan dengan lokasi proyek, menyatakan kekhawatirannya. “Bukan menolak pembangunannya, tapi tempatnya tolong ditinjau kembali. Di sini banyak anak-anak, dan wilayah ini juga rawan banjir. Kasihan kalau nanti limbah atau asapnya masuk ke rumah kami,” ujarnya.
Polemik ini mencerminkan meningkatnya kesadaran lingkungan dan kesehatan masyarakat. Warga tidak hanya menolak proyek secara emosional, tetapi mengajukan alasan berbasis fakta mengenai risiko nyata terhadap kualitas udara, air, dan keselamatan sekitar. Partisipasi publik ini mendorong pemerintah dan pengembang untuk mempertimbangkan langkah mitigasi yang lebih matang.
PLTSa sendiri memiliki potensi positif. Dengan membakar sampah dan mengubahnya menjadi listrik, proyek ini bisa mengurangi beban TPA dan menambah pasokan energi. Namun, kritik dari masyarakat, akademisi, dan organisasi lingkungan menekankan pentingnya pengendalian emisi dan lokasi proyek yang aman bagi warga.
Sejak rencana proyek mencuat pada pertengahan 2025, warga aktif menyuarakan pendapatnya melalui aksi langsung di balai kota. Dialog ini menjadi bukti bahwa masyarakat kini lebih peduli terhadap lingkungan dan kesehatan mereka, serta menuntut keterlibatan dalam setiap proyek pembangunan yang berdampak luas.
Kesadaran ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dan pengembang: setiap proyek industri atau energi harus memperhatikan lokasi, standar keamanan, dan mitigasi risiko bagi lingkungan dan warga. Dengan pendekatan yang tepat, pembangunan PLTSa tetap memungkinkan, tetapi dengan cara yang aman, ramah lingkungan, dan diterima masyarakat.
Rencana PLTSa di Makassar menimbulkan kontroversi, namun mengungkap sisi positif berupa meningkatnya kesadaran warga terhadap lingkungan dan kesehatan. Protes warga menunjukkan pentingnya dialog, partisipasi publik, dan perencanaan yang matang sehingga pembangunan energi bersih tidak mengorbankan kualitas hidup masyarakat.
