Di Tengah Sunyi Linge, Aman Arifin Bertahan dengan Harapan

Potret Pengungsian warga di Linge, Kab Aceh Tengah.  | Editor : Hidayat sabirun.


METRO GAYO | ACEH TENGAH - Langit di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, belum sepenuhnya ramah siang itu. Tanah masih basah, udara lembap, dan jejak bencana masih terlihat jelas di sekitar permukiman warga. Di sebuah tempat singgah sederhana, Aman Arifin duduk bersila bersama awak media Metro Gayo yang sempat mampir, seolah memanfaatkan waktu singkat itu untuk menumpahkan cerita yang selama ini dipendam, Sabtu (03/01/25).


Tidak ada raut marah di wajahnya. Yang tampak justru ketenangan yang lahir dari keterpaksaan menerima keadaan. Dengan suara pelan, Aman Arifin mulai mengisahkan bagaimana bencana datang tanpa memberi ruang untuk bersiap. Saat itu, yang terlintas di benaknya hanya satu, menyelamatkan keluarga. Tidak ada waktu memikirkan harta, pakaian, atau barang berharga lainnya.


“Sejak hari itu, hidup kami seperti dimulai ulang,” katanya. Ia tidak mengucapkannya dengan nada putus asa, melainkan dengan kesadaran bahwa hidup harus terus berjalan. Kini, apa yang mereka miliki hanyalah pakaian yang dipakai dan kekuatan untuk bertahan dari hari ke hari.


Aman Arifin bercerita tentang malam-malam panjang yang dilalui tanpa kepastian. Tentang bagaimana ia dan warga lainnya saling berbagi makanan seadanya, saling menjaga anak-anak, dan menguatkan satu sama lain ketika rasa lelah datang. Di tengah keterbatasan, kebersamaan menjadi penopang utama agar semangat tidak runtuh.


Sesekali, Aman Arifin terdiam. Pandangannya menerawang jauh ke perbukitan yang masih menyimpan trauma. Namun jeda itu selalu diakhiri dengan tarikan napas panjang, seolah ia menegaskan pada dirinya sendiri bahwa menyerah bukan pilihan. “Kalau kami ikut jatuh, siapa lagi yang bangkitkan keluarga?” ucapnya lirih.


Kehadiran awak media Metro Gayo menjadi momen langka bagi Aman Arifin dan warga Linge. Bukan karena ingin mengeluh, melainkan karena ingin kisah mereka didengar apa adanya. Bahwa di balik angka korban dan laporan bencana, ada manusia-manusia yang berjuang menjaga martabat hidup.


Aman Arifin berharap, perhatian yang datang tidak berhenti pada simpati sesaat. Ia ingin pemulihan benar-benar menyentuh kebutuhan dasar warga, terutama bagi anak-anak yang kini harus tumbuh di tengah keterbatasan. “Kami ingin berdiri lagi, meski pelan,” katanya, dengan mata yang menyiratkan harapan.


Kisah Aman Arifin adalah potret keteguhan warga Linge. Bencana mungkin telah menghapus banyak hal, namun tidak dengan semangat untuk bangkit. Di tanah yang masih basah dan sunyi, harapan itu terus dijaga—pelan, sederhana, dan penuh keyakinan.


Sumber: Aman Arifin, Linge

أحدث أقدم
Berita Wisata Bisnis Tentang