![]() |
| Dok : Warga saat memasak menggunakan kayu bakar. | Foto : Hidayat sabirun. |
Metro Gayo | Aceh Tengah - Pasca bencana yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatra, masyarakat kini bergantung pada kayu bakar sebagai bahan bakar utama untuk memasak kebutuhan sehari-hari, Selasa (16/12/2025).
Kondisi ini terjadi akibat keterbatasan pasokan gas elpiji serta belum pulihnya jaringan listrik di daerah terdampak.
Warga Aceh yang terdampak bencana menjadi pihak yang paling merasakan situasi tersebut, khususnya masyarakat di kawasan pemukiman dan lokasi pengungsian. Selain digunakan oleh rumah tangga, kayu bakar juga dimanfaatkan di dapur umum yang dikelola secara swadaya guna memenuhi kebutuhan konsumsi warga.
Kondisi ini berlangsung hingga saat ini, beberapa hari setelah bencana melanda wilayah Aceh. Distribusi gas elpiji yang belum normal serta pemulihan listrik yang masih bertahap membuat warga belum memiliki alternatif lain selain menggunakan kayu bakar.
Penggunaan kayu bakar terlihat di berbagai daerah terdampak di Aceh, baik di pemukiman warga, lokasi pengungsian, maupun dapur umum darurat. Tungku sederhana berbahan batu dan tanah menjadi alat utama yang digunakan untuk memasak.
Kelangkaan gas elpiji serta kenaikan harga yang mencapai Rp85.000 hingga Rp100.000 per tabung, ditambah terputusnya aliran listrik akibat kerusakan fasilitas umum dan akses distribusi, menjadi alasan utama warga beralih ke kayu bakar. Selain itu, kayu bakar dinilai lebih mudah diperoleh di lingkungan sekitar dibandingkan bahan bakar lainnya.
Saat ini, kayu bakar dijual oleh warga setempat dengan harga sekitar Rp25.000 per ikat, di mana satu ikat berisi sekitar 7 hingga 8 potongan kayu. Kayu tersebut menjadi penopang utama kebutuhan memasak masyarakat Aceh paska bencana, sambil menunggu kondisi kembali normal.
