![]() |
| Dok lama potret terminal paya ilang. | Editor : Hidayat sabirun. |
METRO GAYO | ACEH TENGAH — Layanan angkutan umum Taradita untuk rute Takengon–Banda Aceh kembali aktif sejak 29 Desember 2025, setelah sempat dihentikan karena banjir bandang dan longsor yang mengganggu akses di sejumlah ruas jalan di Aceh Tengah dan sekitarnya.
Pengelola Taradita, Aryadi, mengatakan operasional saat ini dilakukan dengan satu unit mobil Hiace dan keberangkatan dari Takengon dijadwalkan pada pukul 09.00 WIB, dengan estimasi tiba di Banda Aceh sekitar pukul 17.00 WIB. Rute yang dilalui meliputi Takengon–Bireuen–Sigli–Banda Aceh. Keberangkatan dari Banda Aceh menuju Takengon juga diberangkatkan pada pukul 09.00 WIB.
“Alhamdulillah, kami sudah bisa beroperasi kembali. Kondisi jalan saat ini sudah dapat dilalui,” kata Aryadi saat diwawancarai di Takengon, Senin (5/1/2026).
Menurut Aryadi, penyesuaian jadwal yang semula memungkinkan keberangkatan malam hari dengan beberapa unit kendaraan dibuat untuk menjamin keselamatan penumpang mengingat kondisi infrastruktur yang belum sepenuhnya pulih pascabencana. Sebelum bencana, Taradita biasa mengoperasikan hingga tiga unit dengan jadwal malam hari; kini armada dipadatkan dan dipindahkan ke keberangkatan pagi hari.
Ia menambahkan bahwa pada perjalanan awal beroperasi kembali, tingkat okupansi cukup tinggi. Hal ini menunjukkan kebutuhan masyarakat akan konektivitas antarkota untuk urusan ekonomi, pemeriksaan, maupun bantuan pascabencana.
Pemulihan sebagian fungsi transportasi darat menjadi salah satu indikator membaiknya aksesibilitas di daerah terdampak. Meski demikian, keterbatasan armada dan perubahan jadwal dapat mempengaruhi mobilitas warga yang biasa bergantung pada layanan malam atau frekuensi lebih tinggi.
Taradita belum mengumumkan jadwal pengoperasian tambahan atau penambahan unit. Pengelola menyatakan akan memantau kondisi jalan dan jembatan secara berkala, serta menyesuaikan layanan ketika akses dinyatakan aman dan stabil.
Kembalinya trayek ini dinilai penting oleh pelaku usaha dan warga karena menghubungkan pusat-pusat layanan kesehatan, perdagangan, dan administrasi antara Takengon dan Banda Aceh. Pemeriksaan lanjutan terhadap kondisi rute menjadi kunci agar layanan dapat kembali seperti sediakala tanpa mengorbankan keselamatan pengguna jalan.
