![]() |
| Penakar Hujan Hellmann, berfungsi untuk mengukur intensitas, jumlah, dan waktu terjadinya hujan, dipasang dengan ketinggian 120 cm dari permukaan tanah. | Foto : BMKG | Editor : Hidayat sabirun. |
METRO GAYO | JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjalankan pemantauan bencana alam di Indonesia dengan memanfaatkan sejumlah instrumen pengamatan berbasis teknologi, yang berfungsi mendeteksi fenomena gempa bumi, cuaca ekstrem, serta potensi tsunami.
Dalam pemantauan cuaca dan iklim, BMKG menggunakan radar cuaca yang dipasang di berbagai wilayah. Radar ini berfungsi memantau pergerakan awan hujan, intensitas curah hujan, dan potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang. Data radar digunakan untuk analisis kondisi atmosfer secara real time dan menjadi dasar penyampaian informasi cuaca harian maupun peringatan dini.
Selain radar, BMKG juga mengoperasikan Automatic Weather Station (AWS) dan Automatic Rain Gauge (ARG) yang merekam data suhu, kelembapan, tekanan udara, kecepatan angin, serta curah hujan secara otomatis di lapangan.
Untuk pemantauan aktivitas seismik, BMKG mengandalkan jaringan seismograf dan accelerograf yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Alat ini merekam getaran tanah akibat aktivitas tektonik. Berdasarkan data BMKG, ratusan sensor gempa telah terpasang dan terhubung langsung ke pusat analisis gempa bumi BMKG di Jakarta.
Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Dr. Daryono, S.T., M.T. , dalam sejumlah keterangan resminya menyebutkan bahwa sensor-sensor tersebut memungkinkan BMKG menyampaikan informasi gempa bumi kepada publik dalam waktu singkat setelah kejadian.
“Sensor gempa yang terpasang akan merekam getaran tanah, kemudian data tersebut dianalisis untuk menentukan parameter gempa seperti magnitudo, kedalaman, dan lokasi,” ujar Daryono dalam keterangan tertulis BMKG.
Dalam konteks potensi tsunami, BMKG terlibat dalam pengelolaan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS). Sistem ini memanfaatkan data gempa bumi, sensor tekanan dasar laut, serta pengamatan muka air laut untuk menilai kemungkinan terjadinya tsunami pascagempa bawah laut.
BMKG juga menggunakan Warning Receiver System (WRS) yang ditempatkan di instansi pemerintah daerah, BPBD, dan lembaga terkait. Perangkat ini berfungsi menerima informasi resmi BMKG secara cepat untuk diteruskan kepada pihak berwenang di daerah.
Seluruh data dari berbagai instrumen tersebut diproses dan dianalisis oleh petugas BMKG sebelum disampaikan kepada publik melalui kanal resmi, termasuk situs web, aplikasi, media sosial, dan siaran pers.
BMKG menegaskan bahwa informasi yang disampaikan bersumber dari hasil analisis ilmiah berbasis data pengamatan alat, dan bukan bersifat prediksi spekulatif.
