![]() |
| Prosesi “Bemunge Menulaken". | Foto : ProkopimAt. | Editor : Tim Redaksi. |
Metrogayo.com | Aceh Tengah – Suasana haru menyelimuti halaman SDN 9 Lut Tawar saat prosesi adat “Bemunge Menulaken Murid Ari Tengku Guru Ku Urang Tue” digelar menyambut tahun ajaran baru. Tradisi yang sarat nilai adat dan penghormatan kepada guru itu membuat banyak orang tua tak kuasa menahan air mata ketika menyerahkan anak-anak mereka untuk menempuh pendidikan.
Prosesi berlangsung khidmat di hadapan dewan guru, wali murid, dan para siswa baru. Dengan balutan adat Gayo yang masih dijaga kuat, momen tersebut bukan sekadar seremoni sekolah, melainkan simbol penyerahan amanah dari orang tua kepada guru agar anak-anak mereka dibimbing menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak.
Dalam suasana penuh kehangatan, sejumlah orang tua terlihat memeluk anak mereka sebelum memasuki barisan siswa baru. Beberapa ibu bahkan tampak menitikkan air mata, menyadari bahwa langkah kecil anak menuju bangku sekolah merupakan awal perjalanan panjang menuju masa depan.
Kepala sekolah menyampaikan bahwa tradisi ini terus dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya Gayo sekaligus mempererat hubungan emosional antara sekolah, guru, dan keluarga murid.
“Ini bukan hanya tentang masuk sekolah, tetapi bagaimana orang tua menitipkan harapan besar mereka kepada guru,” ungkap salah satu guru dalam prosesi tersebut.
Tradisi “Bemunge Menulaken” sendiri telah lama dikenal dalam budaya masyarakat Gayo. Nilainya mengajarkan sopan santun, penghormatan kepada pendidik, serta pentingnya kebersamaan dalam membentuk karakter anak sejak dini.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kegiatan seperti ini dinilai menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal pelajaran di kelas, tetapi juga tentang adab, doa, dan ikatan emosional antara guru dan murid.
Momen tahun ajaran baru di SDN 9 Lut Tawar itu pun meninggalkan kesan mendalam bagi para orang tua. Banyak dari mereka berharap anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang membanggakan keluarga, agama, dan daerahnya.
Tradisi sederhana namun penuh makna itu menjadi bukti bahwa nilai budaya dan pendidikan masih berjalan berdampingan di tanah Gayo.
